Laman

Jumat, 26 Agustus 2011

Mutiara Al-Hikam # 8



Jika Allah membukakan pintu ma'rifat bagimu, jangan hiraukan mengapa itu terjadi sementara amalmu sedikit. Allah membukakannya bagimu hanyalah karena Dia ingin memperkenalkan diri kepadamu. Tidakkan engkau mengerti bahwa ma'rifat itu adalah anugerah-Nya kepadamu, sedangkan amal adalah pemberianmu? Maka betapa besar perbedaan antara persembahanmu kepada Allah dan karunia-Nya kepadamu!




PENJELASAN
Kita bisa mengukur seluruh kemurahan Allah, atau membandingkannya dengan pengorbanan dan amal-amal shaleh kita. Apa pun yang kita persembahkan kepadaSang Pencipta tidaklah ada artinya bila dibandingkan dengan apa yang telah Dia karuniakan kepada kita, yakni fitrah dan cahaya ruh. Sesungguhnya Dia adalah Pencipta dan Pemelihara segala sesuatu yang ada di dalam dan di sekitar kita, yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Tindakan dan amal kita hanyalah tanda dan pendahuluan menuju penyingkapan dan pertolongan, yang sesungguhnya sudah ada namun kita teralingi dari melihatnya.

Sudah selayaknya manusia harus banyak dan besar amalnya, karena Allah mendorong kita untuk memperbanyak kebaikan. Karena itu seorang Muslim berkeinginan agar amalnya yang baik bertambah.

"Bersegeralah dalam beramal shaleh...." (HR Muslim)
"Dan bergegaslah kalian menuju ampunan dari Rabb kalian dan menuju syurga-Nya.." (Ali Imran:133)


Bergegas dalam kebaikan adalah termasuk apa yang diperintahkan Allah dan Rasulullah saw kepada kita. Dan untuk masuk ke dalam maqam wilayah (kewalian) pun lewat selah-celah amal shaleh, baik yang fardhu maupun yang sunnah. Tersebut dalam hadits qudsi: "Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai, selain dari apa yang Aku fardhukan kepadanya, dan ia selalu bertaqarrub kepada-Ku dengan beragam amal nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya." (Dikeluarkan oleh Bukhari dan Ahmad).


Pintu untuk masuk kepada wilayah (kewalian) adalah melakukan yang fardhu dan memperbanyak yang sunnah, dengan memperhatikan pemahaman yang benar tentang masalah yang fardhu. Karena banyak orang yang teledor terhadap hal-hal yang fardhu 'ain, dan menekuni sesuatu yang sunnah-sunnah. Hendaklah kita paham bahwa seorang Muslim yang telah melakukan setiap yang fardhu 'ain dan menghadap Allah dengan yang sunnah-sunnah, sesungguhnya ia telah meletakkan kakinya di jalan kewalian dan ia akan sampai kepada-Nya dengan izin Allah.


Karena itu selagi engkau mampu memperbanyak amal shaleh, maka lakukanlah, dan ini adalah tuntutan syara'. Dengan pengertian inilah kita hendaknya memahami apa yang sudah kami paparkan. Syaikh Ibnu 'Atha'illah tidak menghendaki agar kita meninggalkan amal shaleh atau menguranginya, atau kita merasa cukup dengannya. Ia hanya meminta perhatian sang salik, bahwa terkadang ia meninggalkan hal-hal yang sunnah, namun pada saat yang sama Allah membukakan pada hatinya petunjuk dan ma'rifah dzauqiyah (mengenal Allah dengan cita rasa). Maka ia harus sadar, seraya bersyukur dan kembali kepada amal. Ia mengarahkan perhatian salik pada masalah ini, dan bukan untuk melemahkan amal. Dalam pendakiannya, kadang sang salik yang menuju Allah dihinggapi kelemahan, namun kala itu diselusupkan dalam hatinya warid (limpahan pengetahuan dan ketajaman) atau ilham (inspirasi atau pancaran Ilahi) yang menambah ma'rifatnya kepada Allah.