Laman

Selasa, 13 September 2011

KESUNYIAN DAN KESENDIRIAN

KESUNYIAN DAN KESENDIRIAN
Oleh: Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Kitab: Sirr al-Asrar

Kesunyian dan kesendirian pasti akan dialami oleh setiap manusia setelah mati. Seluruh keluarga akan berpisah dengannya, bila dia mati. Begitu juga dengan sahabt dan handai taulan, tidak seorang pun yang mau mengikutimu, apabila engkau telah disemayamkan dalam kubur. Tinggallah engkau seorang diri di dalam kubur.


Oleh karena itu, Allah mengajarkanmu untuk menyendiri dan mengasingkan hati dari ghairullah. Lenyapkan dirimu sebelum engkau mati, niscaya kubur itu akan menjadi jalan menuju Allah. Apabila hatimu telah mati dari ghairullah, Engkau akan hidup di sisi Allah. Engkau akan dekat dengan Allah, dan akan dilimpahi maghfiratullah, karena engkau telah mengenal Allah. Hukum-hukum utama dalam syari'at Allah hendaknya dijaga dan dipelihara.

Kuasailah syar'i dengan cara mengamalkan semua kehendak-Nya dengan baik dan sempurna. Apabila engkau telah mampu mengerjakannya, berarti engkau telah memperoleh taufik dari Tuhan yang memberikan syariat itu. Syariat itu untuk ,kebaikanmu, bukan untuk keburukan! Dengan syariat yang sempurna, pintu Tuhannya akan terbuka. Maka renungkan dan perhatikanlah, bagaimana senangnya berdekatan dengan Allah dan bermunajat kepada-Nya.

Orang yang benar (Shiddiq) menghabiskan waktunya dengan memperbanyak amal ibadah dan bersyukur kepada Allah, karena itulah satu-satunya pintu untuk ber-taqarub. Mereka terus beribadah dan bersyukur kepada Allah, serta patuh atas segala perintah-Nya sebagai rasa syukur terhadap rahmat yang dikaruniakan Allah kepada mereka.

Wahai anak-anak muda! Tidak ada kejayaan untukmu sehinngga kamu mendapatkan rahmat dari Allah, di mana dengan rahmat itu kamu akan tenggelam dalam lautan kesadaran Tauhid. Apabila kamu berada di dalam lautan Tauhid itu, niscaya kamu akan melihat, selain Allah semata. Bagaimana Allah akan menyayangi orang yang selalu merengut dan tidak ridha dengan takdir-Nya, selalu bertengkar dan berkelahi dengan ketetapan-Nya? Cinta, rindu dan taqarrub itu tidak akan tercapai selagi orang itu tidak ridha dan tidak senang dengan takdir-Nya. Jika kita memang benar-benar mencintai-Nya, tentu kita tidak merasa sakit dan sengsara bila Dia mentakdirkan kesengsaraan dan kedukaan terhadap kita. Apabila cinta dan rindu benar-benar menyelubungi diri kita, segara prasangka, keraguan, dan ketidaksetiaan akan sirna dari jiwa kita.