Laman

Sabtu, 27 Agustus 2011

Kepada Dept SDM TOSMe

Kepada:
Departemen SDM
The Tito Office of Strategy Management

Alhamdulillah, pertumbuhan 'Tito Group' begitu spektakuler dan penuh keajaiban. Semua ini adalah karunia dan rahmat Allah yang harus selalu kita syukuri. Syukur yang kita ujudkan dengan selalu menjaga hak-hak Allah dan selalu mengikuti sunnah Rasulullah saw.

Departemen SDM mempunyai peran dan tanggung jawab multiwajah, dan fungsinya di Tito lebih dari sekedar mempekerjakan karyawan dan mengadministrasikan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan gaji, promosi, dan tunjangan. Di Tito, Departemen SDM berbuat lebih jauh dari sekadar mengelola database dan pastilah bukan suatu fungsi yang dapat di-outsource-kan.

Saya ingin Departemen SDM di Tito Group, pertama mampu mengembangkan people value stream untuk meningkatkan nilai tambah di mana orang belajar dan mengembangkan keterampilan pekerjaan dan kepemimpinan berdasarkan nilai dan filosofi perusahaan. Kedua mampu melibatkan orang yang mendukung proses-proses sehingga orang-orang dilatih, diajar, dan dilibatkan setiap hari dalam perbaikan dan pembelajaran yang terus menerus. Ketiga, meletakkan proses-proses yang mendukung organisasi agar memungkinkan perkembangan budaya yang sehat yang menopang pembangunan manusia yang berkualitas. Terakhir, mengintegrasikan product value stream dan people value stream melalui prinsip-prinsip "14 Prinsip Tito Way" sehingga kita dapat mencapai keunggulan kompetitif jangka panjang dan kemakmuran bersama.

Demikian arahan dari saya agar bisa menjadi landasan pijak untuk Departemen SDM dalam menjalankan fungsi dan tugasnya.

Semangat Pagi
Sehat-Kuat-Dahsyat
Ttd
Setyadi Senyum Bahagia

Jumat, 26 Agustus 2011

Mutiara Al-Hikam # 8



Jika Allah membukakan pintu ma'rifat bagimu, jangan hiraukan mengapa itu terjadi sementara amalmu sedikit. Allah membukakannya bagimu hanyalah karena Dia ingin memperkenalkan diri kepadamu. Tidakkan engkau mengerti bahwa ma'rifat itu adalah anugerah-Nya kepadamu, sedangkan amal adalah pemberianmu? Maka betapa besar perbedaan antara persembahanmu kepada Allah dan karunia-Nya kepadamu!




PENJELASAN
Kita bisa mengukur seluruh kemurahan Allah, atau membandingkannya dengan pengorbanan dan amal-amal shaleh kita. Apa pun yang kita persembahkan kepadaSang Pencipta tidaklah ada artinya bila dibandingkan dengan apa yang telah Dia karuniakan kepada kita, yakni fitrah dan cahaya ruh. Sesungguhnya Dia adalah Pencipta dan Pemelihara segala sesuatu yang ada di dalam dan di sekitar kita, yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Tindakan dan amal kita hanyalah tanda dan pendahuluan menuju penyingkapan dan pertolongan, yang sesungguhnya sudah ada namun kita teralingi dari melihatnya.

Sudah selayaknya manusia harus banyak dan besar amalnya, karena Allah mendorong kita untuk memperbanyak kebaikan. Karena itu seorang Muslim berkeinginan agar amalnya yang baik bertambah.

"Bersegeralah dalam beramal shaleh...." (HR Muslim)
"Dan bergegaslah kalian menuju ampunan dari Rabb kalian dan menuju syurga-Nya.." (Ali Imran:133)


Bergegas dalam kebaikan adalah termasuk apa yang diperintahkan Allah dan Rasulullah saw kepada kita. Dan untuk masuk ke dalam maqam wilayah (kewalian) pun lewat selah-celah amal shaleh, baik yang fardhu maupun yang sunnah. Tersebut dalam hadits qudsi: "Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai, selain dari apa yang Aku fardhukan kepadanya, dan ia selalu bertaqarrub kepada-Ku dengan beragam amal nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya." (Dikeluarkan oleh Bukhari dan Ahmad).


Pintu untuk masuk kepada wilayah (kewalian) adalah melakukan yang fardhu dan memperbanyak yang sunnah, dengan memperhatikan pemahaman yang benar tentang masalah yang fardhu. Karena banyak orang yang teledor terhadap hal-hal yang fardhu 'ain, dan menekuni sesuatu yang sunnah-sunnah. Hendaklah kita paham bahwa seorang Muslim yang telah melakukan setiap yang fardhu 'ain dan menghadap Allah dengan yang sunnah-sunnah, sesungguhnya ia telah meletakkan kakinya di jalan kewalian dan ia akan sampai kepada-Nya dengan izin Allah.


Karena itu selagi engkau mampu memperbanyak amal shaleh, maka lakukanlah, dan ini adalah tuntutan syara'. Dengan pengertian inilah kita hendaknya memahami apa yang sudah kami paparkan. Syaikh Ibnu 'Atha'illah tidak menghendaki agar kita meninggalkan amal shaleh atau menguranginya, atau kita merasa cukup dengannya. Ia hanya meminta perhatian sang salik, bahwa terkadang ia meninggalkan hal-hal yang sunnah, namun pada saat yang sama Allah membukakan pada hatinya petunjuk dan ma'rifah dzauqiyah (mengenal Allah dengan cita rasa). Maka ia harus sadar, seraya bersyukur dan kembali kepada amal. Ia mengarahkan perhatian salik pada masalah ini, dan bukan untuk melemahkan amal. Dalam pendakiannya, kadang sang salik yang menuju Allah dihinggapi kelemahan, namun kala itu diselusupkan dalam hatinya warid (limpahan pengetahuan dan ketajaman) atau ilham (inspirasi atau pancaran Ilahi) yang menambah ma'rifatnya kepada Allah.

Kamis, 25 Agustus 2011

Mutiara Al-Hikam # 7


Tidak terjadinya sesuatu yang dijanjikan, padahal waktunya telah tiba, janganlah sampai membuatmu ragu terhadap janji Allah itu. Supaya, yang demikian tidak mengaburkan pandangan mata batinmu dan memadamkan cahaya relung hatimu.
PENJELASAN
Untuk mempertahankan jalan yang tepat menuju pencerahan batin, kita perlu membuang semua keraguan terhadap kesempurnaan, keadilan, dan kebijaksanaan Allah di balik bentangan peristiwa yang terjadi sesuai dengan urutan waktu yang tepat. Yang terpenting adalah penyerahan diri sepenuhnya dan kepercayaan total kita kepada kehendak dan tujuan-Nya, meskipun kita mungkin sudah memperoleh ilham yang benar dan wawasan batin menuju suatu penyingkapan atau peristiwa, yang tidak terjadi.


Syaikh Ibnu 'Athaillah memperingatkan kita, jika kita beramal hendaklah kita tidak berputus asa, tidak meninggalkan pekerjaan itu, dan agar kita harus terus menerus mengerjakannya dalam kondisi apapun, meskipun hasilnya lambat. Ia berkata: Keterlambatan pemberian (Ilahi), sementara engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa ....... supaya hal itu tidak menodai bashirah-mu dan memadamkan cahaya hatimu."


Allah menjanjikan pertolongan kepada kaum Mu'minin: "Adalah wajib bagi Kami untuk menolong orang-orang Mu'min." (ar-Ruum: 47)


Karena itu jika kita sudah beramal, namun pertolongan belum juga datang, maka janganlah membuat kita bimbang terhadap janji Allah, bahkan kita harus tetap beramal. Sesungguhnya orang yang beramal karena Allah, ia akan terus beramal dalam kondisi apa pun, dan ia senantiasa berada di satu jalan baik diterima atau ditolak, membuahkan hasil atau tidak, dapat segera dipetik buahnya atau tidak, hingga sekalipun ia melihat tanda-tanda yang menggembirakan lalu ia tahu bahwa dalam memahami isyarat-isyarat itu ia keliru, maka ia tidak akan masuk dan terjerembab dalam keputusasaan.

Taujihat Yaumiyah # 6

SYAIKH MUSHTHAFA MASYHUR: "Kader-kader aqidah harus memelihara waktunya untuk dipergunakan pada kegiatan-kegiatan yang berguna untuk dakwah. Tidak ada waktunya yang terbuang dengan sia-sia, sebab waktu adalah kehidupan, dan kewajiban lebih banyak daripada waktu yang dimilikinya. Waktu yang sudah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi, dan kita akan ditanya tentang waktu pada hari kiamat nanti.


Rasulullah saw bersabda: "Tidak ada satu hari yang terbit fajar kecuali dia memanggil: "Hai anak Adam, aku makhluk baru dan di atas amalmu aku menjadi saksi, maka ambillah bekal dariku, karena sesungguhnya aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat!"


Kita menghendaki umat Islam yang berdisiplin dalam setiap hal, disiplin di kantornya, di rumahnya, di lapangan pekerjaannya, disiplin dalam anggaran belanja hidupnya. Sebab, kedisiplinan inilah yang mendorongnya meningkatkan karya dan menghemat dana serta mendapatkan hasil yang baik dari seluruh tenaga yang dipergunakannya.


Sudah jelas, seorang kader dakwah atai da'i harus mempunyai satu usaha tertentu untuk mencari rezeki yang halal, agar dia tidak menjadi beban orang lain, agar hidupnya tenang dan mantap, sehingga menjadi alat penopang keberhasilan dakwahnya, dan agar dia dapat mendirikan rumah tangga muslim, serta melahirkan keturunan yang baik untuk masyarakat Islam.

Taujihat Yaumiyah # 5

SA'ID HAWWA: "Jika amar ma'ruf dan nahi munkar merupakan salah satu sarana tazkiyah, maka demikian pula jihad karena ia merupakan bentuk pengukuhan kebaikan dan pengikisan kemungkaran. Oleh karena itu, mati syahid di jalan Allah adalah penghapus dosa. Orang yang berjihad di jalan Allah terbebas secara langsung dari rasa takut dan kikir karena ia menerjang kematian dengan niat menjual dirinya kepada Allah, "Sesungguhnya Allah telah membeli orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah lalu mereka membunuh atau terbunuh..." (QS at Taubah: 111). Tidak dapat melakukan hal tersebut secara sempurna dan baik kecuali orang yang disebutkan sifatnya oleh Allah dengan firman-Nya: "Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang mu'min itu." (QS at Taubah: 112)

Jadi, jihad adalah salah satu sarana tazkiyah (pensucian jiwa), bahkan merupakan sarana paling tinggi dan tidak dapat melakukannya pada ghalibnya kecuali orang yang jiwanya tersucikan.